ep·i·gram·ma [n] 1. Any witty, ingenious, or pointed saying tersely expressed. 2. A brief, interesting, memorable, and sometimes surprising or satirical statement. |
Detik
![]() Tik.. Tok.. Jam yang melingkar di pergelangan tangan mungil perempuan itu berdetik. Setiap detiknya. Selaras dengan detak jantungnya. Sesekali ia melirik ke jamnya. Seseorang yang ditunggu sedari tadi tak kunjung datang. Semenit. Dua menit. Sejam. Dua jam. Masih tak datang juga. Tik.. Tok.. Jam tersebut seakan tak ingin berhenti berdetik. Kalau jam itu punya wajah, sudah pasti ia akan tersenyum kecut. Seakan mengejek dirinya yang sedari tadi tak beranjak dari tempat ia berpijak sekarang. Tik.. Tok.. Tak.. Tuk.. Tiktok.. Taktuk.. Irama detik sekarang tak selaras dengan detak jantungnya. Detak yang saat ini telah memburu. Seakan ingin menahan sesuatu yang sebenarnya ingin meledak keluar dari dalam dirinya. Tik.. Tak.. Tok.. Tuk.. Taktiktuktok.. Makin tak beraturan. Bunyi detik bercampur dengan detak bersahut-sahut di dalam telinganya. Di dalam pikirannya. Di dalam hatinya. Menimbulkan bunyi yang terdengar begitu menyeramkan bagi siapa saja yang mendengarkannya. Tiktoktaktuktiktoktaktoktik... Jengah! Marah! Perempuan itu melepaskan jam yang dibelinya dengan susah payah itu. Hasil menabung dari 6 bulan bekerja. Prakk! Jam yang tak bersalah dibantingnya ke aspal berdebu yang tengah ia injak. Sshhhh... Diam. Tak ada bunyi detik. Yang ada hanya bunyi detak jantungnya yang semakin memburu dan tak beraturan. Berbalik, kemudian perempuan itu berlari. Tik.. Tok.. Tik.. Tok.. Dalam riuh rendah kendaraan lalu lalang di atas aspal tersebut, detik diam-diam tersenyum. Bukan lagi tersenyum kecut, namun tertawa. Menertawakan perempuan yang dianggapnya bodoh itu. Tik.. Tok.. Tik.. Tok.. Photo source: weheartit.com Libellés : fiksi mini, story 0 comment(s)
Post a comment
About A Family
About my family..Ayah: Lelaki yang paling jarang difoto, karena di kebanyakan foto, ia adalah the man behind the camera. Tapi memang sebenarnya ayah saya orangnya ga suka difoto sih hehe. Ayah tipikal orang yang sayang dengan keluarganya tapi suka jaim dan jarang menunjukkan secara eksplisit. Biarpun umur ayah sudah terbilang tua, ayah masih memiliki jiwa yang muda. Terutama soal musik, ia sangat klop dengan saya. Mulai dari The Beatles, Bee Gees, Deep Purple, Nirvana, Incognito, Al Jarreau, Dream Theater, sampai Jason Mraz pun ia suka. Di rumah, ia masih menyimpan dua rak kaset-kaset koleksi dari jaman SMA, dan semuanya masih dalam kondisi baik. Dan beberapa saya bawa ke Jatinangor untuk jadi hiasan hehe. Ayah jarang marah, tapi kalau sudah marah seremnya naudzubilah. Ibu: Wanita ter-super di abad 21. Semua pekerjaan bisa dihandle. Mulai dari bisnis pakaian, bisnis rumah makan, mengurus rumah, suami dan anak-anak. Semua dikerjakan dengan senang hati, dan hebatnya, tanpa mengeluh sama sekali. Ibu saya suka bawel, apalagi jika melihat rumah yang kotor atau anak-anaknya yang suka malas. Maklum, saya dan adik-adik saya sedang dalam masa pertumbuhan, yang lagi giat-giatnya main hehe. Ibu, selain suka bawel, ia juga partner paling klop saya dalam hal fashion. Malah ibu yang lebih rajin belanja baju daripada saya. Tapi gapapa, untung saja ukuran baju dan kaki saya, ibu dan adik perempuan saya sama. Jadi bisa gantian. Ibu adalah sosok wanita yang paling saya cintai di hidup saya. Ia bisa menjadi seorang ibu, yang melimpahi saya dengan kasih sayangnya, memperhatikan saya, dan mendidik saya hingga menjadi seperti ini. Ia juga bisa menjadi seorang sahabat, yang setia mendengarkan saya curhat sampai pagi, berburu barang-barang lucu bersama, dan memberikan advice yang paling ampuh. Sekaligus. Lucky: Adik laki-laki saya. Pendiam dan ga suka makan sayur. Ia terkadang suka asyik dengan dunianya sendiri, seakan-akan ga mau keluar dari comfort zonenya. Sampai-sampai saya suka mengajari dia untuk melakukan hal-hal yang sedikit "break the rules" (e.g. bolos sekolah hehe). Namun, dia selalu kembali menjadi Lucky yang pendiam dan asyik dengan dunianya sendiri. Asyik dengan gamenya, komiknya, dan gambarnya. Terkadang saya sampai heran sendiri, sepertinya kepribadian saya dan adik laki-laki saya ini tertukar. Ia lebih kalem, sedangkan saya lunjak-lunjak dan ga bisa diam. Ia lebih suka menggunakan tangannya untuk melakukan hal yang kreatif, sedangkan saya lebih suka menggunakan tangan saya untuk mengisengi orang lain. Yah, mungkin memang begitulah ia. Saya tidak bisa serta merta menarik dia dari dunianya, dari comfort zonenya. Walaupun ia adik saya, ia memiliki hak untuk memilih mau bagaimana dia bersikap dan menjalani hidupnya. Dan saya ga berhak untuk mengatur-atur hidupnya. Putri: Anak yang selalu dibanggakan oleh keluarga. Ia yang paling cemerlang di antara saya dan adik laki-laki saya. Sang juara kelas, nilai akademis yang hampir selalu stabil dan bagus, aktif menjadi colorguard dan sekarang bergabung ke dalam ekskul cheers di sekolahnya, masuk ke kelas bilingual dimana harus melewati sejumlah tes yang ga gampang, masuk menjadi anggota OSIS, supel dan ga pemalu jika dibandingkan dengan saya dan adik laki-laki saya. Terkadang saya iri, ingin jadi seperti dia. Namun yah, hanya sebatas keinginan belaka sih hehe. Ia adalah partner belanja saya yang klop, setelah ibu tentunya. Oh iya, untuk ukuran anak kelas 1 SMP, tinggi badannya sudah mencapai dahi saya. Nah loh, jaman saya dulu SMP saja kerdil dan ga tinggi-tinggi. Si Putri, mungkin karena dia anak bungsu, ia jadi anak yang paling manja di antara saya dan Lucky. Jika keinginannya ada yang ga dituruti, dia akan ngambek dan badmood seharian. That's all about my family. My beloved family. Now, how about your family? I bet they're all great, because a family is the most precious thing in someone's life. Tell me, I'd love to hear it :) 0 comment(s)
Post a comment
On A Long Ride, On A Beautiful Road
A long ride. On a long, beautiful road. The trees in a row. The sunlight passes through the foliage. The birds fly from a tree to another. The wide blue sky. Open the car's window. Feel the wind. Let the hair follows the rhythm of it. Let the skin glows by the sunlight. On a long ride, on a beautiful road. 0 comment(s)
Post a comment
Beach Stalker
![]() Saya selalu suka pantai. Melihat kaki-kaki berlarian, membentuk jejak-jejak di pasir yang seputih susu. Melihat sang mentari yang tak malu memancarkan sinar yang menyengat tubuh. Kuning, putih menyilaukan, terkadang timbul spektrum berwarna pelangi ketika saya memicingkan mata. Melihat semburat kuning keemasan di daun nyiur yang melambai dengan gemulai seperti seorang penari. Melihat tawa lepas dari orang-orang yang bercumbu dengan ombak, namun juga melihat gejolak birahi dari orang-orang yang bercumbu dengan lelakinya. Melihat horizon bumi yang seakan tak terbatas, bersatu antara langit dan laut. Whushh.. Angin bertiup, membawa serta butiran-butiran pasir. Masuk ke dalam mata. Masuk ke dalam baju. Pasir tersebut menari-nari, hingga saya pun ingin menari, melupakan rasa sakit oleh pasir tersebut. Menari mengikuti alunan musik samba yang samar-samar terdengar. Hanya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, yang terlihat di mata. Saya pun tertawa, lepas. Tidak tahu mengapa. Sayup-sayup musik samba pun berhenti. Hanya suara debur ombak yang memenuhi telinga saya. Memecah sepi, menghapus sunyi. Debur ombak yang sedikit demi sedikit menghapus jejak-jejak kaki. Perlahan tapi pasti. Saya suka pantai. Saya suka pantai. 0 comment(s)
Post a comment
A Story of A Boy Meets Girl #1
![]() Suatu hari, ada seorang wanita sedang duduk di kursi sebuah taman. Dia sedang menikmati indahnya pemandangan sore hari itu dari balik kaca mata yang menutupi mata indahnya. Kemudian, dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ya, sebuah buku yang telah lama menjadi favoritnya. Buku yang ditulis oleh Charles Dickens. Ketika dia sedang terlarut di dalam labirin imajinasi yang tercipta dari guratan indah Dickens, tiba-tiba datanglah seorang lelaki dan duduk di samping wanita tersebut. Lelaki tersebut memakai kemeja kedodoran, celana pendek yang ujungnya sudah robek-robek sedikit dan sepatu kets. Wajahnya pun tergolong lumayan, dengan garis wajah yang tegas. Namun, wanita tersebut tidak menoleh sama sekali. Entah pura-pura tidak tahu atau memang jiwanya seakan sudah tersedot ke dalam buku tersebut. Lelaki tersebut berkata, "Indah sekali pemandangan sore hari di sini." Namun wanita tersebut tidak memberikan respon apa-apa. Dia hanya berdehem kecil, sebagai tanda kalau ia setuju. Juga sebagai tanda bahwa ia tidak ingin diganggu. Lelaki itu pun seakan tidak ingin menyerah, dia pun melanjutkan, "Hai, saya Lelaki." Seraya mengeluarkan tangannya. Wanita tersebut menoleh, melihat ke tangan lelaki tersebut. Sepertinya dia tipe lelaki yang cukup peduli dengan penampilan. Pergelangan tangannya dibalut sebuah jam dari stainless, yang cukup membuat mata si wanita silau karena stainless tersebut memantulkan cahaya matahari. Si wanita tersenyum kecut namun tidak ada respon lain selain segaris senyum yang bahkan si pemilik bibir pun tidak rela melakukannya. Ia bahkan tidak menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan si lelaki. Hari berikutnya, seperti biasa wanita tersebut sedang duduk dengan manisnya di kursi taman itu. Namun kali ini dia menggunakan headset di telinganya. Entah mungkin untuk menghindari peristiwa seperti kemarin. Tetapi, sebenarnya hal tersebut adalah palsu. Karena sepasang headset tersebut adalah sebuah alibi baginya agar tidak ada yang mengajaknya berbicara. Dia pun tidak mendengarkan apa-apa, hanya suara anak-anak kecil berlarian tertawa girang dan burung-burung yang berkicauan. Ketika sedang asyik membaca, lelaki itu datang lagi. "Hai!" Sapa si lelaki. Tidak ada jawaban. "Hari ini sama seperti kemarin. Langitnya cerah sekali." Masih tidak ada jawaban. "Buku yang kau baca sepertinya menarik." Diam. Si wanita tidak membalas, bahkan menengok pun tidak. Suasana di sana pun terasa ikut menjadi sunyi. Senyap. Hanya suara imajinari yang hanya dirasakan oleh si lelaki yang membuncah di dalam pikirannya. Dia tak habis pikir, sungguh wanita yang sangat kaku. Bahkan mengangguk saja tidak. "Oke, terimakasih. Have a nice day." Dan dia pun mengangkat kakinya dari kursi tersebut dan pergi meninggalkan wanita itu duduk sendiri. "Aku bukannya takut berkenalan denganmu. Aku bukannya tidak mau berbicara denganmu. Aku hanya takut kau akan seperti lelaki A, lelaki B, lelaki C, dan lelaki-lelaki lainnya. Mereka juga sepertimu, menyapaku, mengajakku berbicara, tetapi mereka dalam hati berkata, aku akan membuatmu kehilangan pegangan ketika kehilangan aku. Aku akan meninggalkan kamu ketika kamu sangat membutuhkan aku. Aku akan menemukan wanita A, wanita B, dan wanita lainnya ketika kamu masih merindukan aku. Aku takut kamu sama seperti mereka, lelaki. Maaf." Wanita tersebut pun menutup bukunya yang telah selesai dia baca. Dan memasukkan ke dalam tasnya. Seperti halnya dia menutup hatinya rapat-rapat dan memasukkannya ke dalam sebuah lembah tak berujung yang tak dapat seseorang pun meraihnya. Libellés : boys, fiction, girls, story 0 comment(s)
Post a comment
Yes, I'm A Pescetarian!
Jika ada dua lauk di atas meja makan, antara ayam dan ikan, apakah yang akan gue pilih? Jawabannya adalah ikan. Dari dulu orang-orang selalu heran karena gue jarang dan bahkan ga pernah makan ayam dan daging. Gue juga heran dan gatau kenapa. Semua ini berawal dengan tiba-tiba, ketika gue masih kelas 3 SMP, gue sudah mengurangi makan ayam, bebek dan daging. Sedikit-sedikit dan lama-lama gue pun bener-bener stop makan ayam, bebek dan daging. Am I a vegetarian? No no! I'm a pescetarian. Mungkin nama "pescetarian" masih asing di telinga kalian. FYI, pescetarian pada dasarnya sama seperti vegetarian, mengurangi lemak. Cuma beda di makanan yang dimakan aja. Kalo vegetarian, bener-bener total ga makan produk hewan, termasuk susu dan telur. Sedangkan pescetarian, ga makan daging dan unggas, tetapi masih memakan telur, susu, ikan dan sayuran. Karena gue menganggap bahwa susu, ikan dan telur memiliki kandungan yang baik. Alasan kedua gue kenapa ga makan daging dan unggas adalah, karena gue takut sama unggas dan karena faktor ga tega. Bodoh sekali bukan.Awal mula gue jadi pescetarian, pastilah ada proses adaptasi. Dari yang gue sakit perut, sering kelaparan, dll. Bahkan berat gue waktu itu sampe berkurang drastis. Bayangin aja, dari 46 kg ke 40 kg. Berat yang sangat ga seimbang dengan tinggi gue yang 161 cm waktu itu. Namun lama kelamaan, gue merasa lebih nyaman dengan menjadi seorang pescetarian. Begitulah cerita dibalik ke-pescetarian-an gue, selain lebih sehat juga lebih menghemat. LOL And oh oh, this is my super-healthy-breakfast! Apple & pistachio salad and a cup of mint-tea :) Libellés : food, health, pescetarian, story 0 comment(s)
Post a comment
|