ep·i·gram·ma [n] 1. Any witty, ingenious, or pointed saying tersely expressed. 2. A brief, interesting, memorable, and sometimes surprising or satirical statement. |
Dream / Reality
Terpejam matanya.Terbaring tubuhnya. Tidak, dia sedang tidak tidur. Dia sedang bercumbu dengan mimpinya. Mimpi yang selalu setia menemani setiap malamnya. Mimpi yang memberikan harapan-harapan semu untuknya, hingga dia selalu berharap bahwa kenyataan adalah mimpi, dan mimpi adalah kenyataan. Namun, tak jarang mimpi kesal kepadanya, hingga mimpi memberikan badai, api, petir, yang kerap membuatnya menangis tanpa ia sadari. *** Sshh... Jangan berisik. Dia sedang asyik bercumbu dengan mimpinya. Walau terkadang mimpi berbuat jahat kepadanya, namun mimpi tak pernah sejahat realita. 0 comment(s)
Post a comment
Naked
Ditatapnya cermin di hadapannya.Dilucutinya helai demi helai kain yang menutupi tubuhnya. Telanjang. Dia menatap tubuhnya dari atas hingga bawah. Betapa dia sangat menikmati saat-saat telanjangnya. Dimana tidak ada lagi helai-helai kain yang selama ini menciptakan pencitraan-pencitraan terhadap dirinya. Dan tidak ada lagi helai-helai kain yang selama ini menutupi kekurangannya. Saat telanjang, dia menjadi dirinya sendiri. Dipandanginya lipatan-lipatan lemak yang sudah lama menghuni tubuhnya. Dipandanginya kulitnya yang menghitam akibat terbakar matahari. Tidak sempurna. Namun apa adanya. Saat telanjang, dia mencintai dirinya sendiri. Sejak orang-orang di luar sana membenci dia yang apa adanya. Dan mencoba untuk melakukan pencitraan-pencitraan melalui helaian kain yang mereka kenakan. Saat telanjang, dia tersenyum, tanpa kata-kata. Dia menemukan dirinya yang sebenarnya. Tanpa suatu penghalang. Kepalsuan. 0 comment(s)
Post a comment
Coffee
Lagi-lagi malam ini dia tak bisa tidur. Mata lelahnya yang kemerahan sedang tidak ingin melewatkan tiap detik malamnya. Badan mungilnya yang semakin hari semakin kurus juga sedang tidak ingin bermesraan dengan kasur, bantal, dan guling. Dia berbalik, ke kanan ke kiri. Dipejamkan matanya, semenit dua menit. Namun masih tetap terjaga.Lalu dia duduk memandangi tayangan di kotak ajaib yang semakin malam semakin tidak jelas, hanya berisi tayangan kriminal, pembunuhan, perkosaan, dan kemelut yang semakin membuat pikiran kalut. Diliriknya gelas yang tergeletak di meja kecil sebelah kasurnya. Saksi akan tiga bungkus kopi yang sekarang sudah berpindah ke dalam lambungnya. Dia suka kopi. Ia juga suka kopi. Ia sudah pergi. Namun dia rindu ia. Lalu dia minum kopi. Tiga gelas. Gelas pertama, sedang-sedang saja. Sama seperti awal perjumpaannya dengan ia. Tak terduga, tiba-tiba dan tak ada yang spesial. Gelas kedua, manis. Sama seperti cerita dia dan ia. Dibumbui oleh rayu, tawa, pelukan hangat, genggaman jemari yang erat, dan senyum malu-malu. Gelas ketiga, pahit. Sama seperti cerita dia dan ia. Diselingi friksi dan sedu. Dia suka kopi. Ia juga suka kopi. Lalu apa yang menyatukan dia dan ia? Kopi? Demi kopi? Dia bangkit dari kasurnya, mulai menyeduh gelas kopi keempat. Dia tidak mau berhenti minum kopi. Karena dia dan ia suka kopi. 0 comment(s)
Post a comment
Untitled
Dia duduk, di sebuah kursi kayu yang warnanya sudah memudar dimakan sang waktu.Digerakkan bola matanya seirama dengan langkah-langkah kaki manusia yang berlalu lalang, di depannya, di sebelahnya, di belakangnya. Terkadang cepat, terkadang lambat, terkadang berhenti sejenak. Dia ingin beranjak dari kursi kayu itu yang telah membelenggunya entah sejak kapan. Seakan ada tali tak kasat mata yang mengikat badannya agar dia tak pergi kemana-mana. Hanya dia dan kursi kayu itu. Bola matanya bergerak semakin tak karuan. Manusia-manusia bergerak semakin lama semakin cepat. Dia ingin turut bergerak, karena manusia pada kodratnya dinamis. Dilemparlah rasa takutnya jauh-jauh. Dia tak ingin lagi statis dan hanya duduk terdiam di situ. Tali tak kasat mata itu dilepaskannya perlahan-lahan. Seakan tak ingin dilepaskan, tali itu membelit badannya semakin erat. Dia tak ingin kalah. Ditariknya keras-keras tali itu, hingga terburai tak berdaya. Dia tersenyum lalu kemudian dia pergi, meninggalkan kursi kayu itu sendiri. Hingga saatnya nanti, akan ada lagi dia-dia yang lain. *** Kursi itu bernama, masa lalu. 0 comment(s)
Post a comment
A Story of A Boy Meets Girl #1
![]() Suatu hari, ada seorang wanita sedang duduk di kursi sebuah taman. Dia sedang menikmati indahnya pemandangan sore hari itu dari balik kaca mata yang menutupi mata indahnya. Kemudian, dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ya, sebuah buku yang telah lama menjadi favoritnya. Buku yang ditulis oleh Charles Dickens. Ketika dia sedang terlarut di dalam labirin imajinasi yang tercipta dari guratan indah Dickens, tiba-tiba datanglah seorang lelaki dan duduk di samping wanita tersebut. Lelaki tersebut memakai kemeja kedodoran, celana pendek yang ujungnya sudah robek-robek sedikit dan sepatu kets. Wajahnya pun tergolong lumayan, dengan garis wajah yang tegas. Namun, wanita tersebut tidak menoleh sama sekali. Entah pura-pura tidak tahu atau memang jiwanya seakan sudah tersedot ke dalam buku tersebut. Lelaki tersebut berkata, "Indah sekali pemandangan sore hari di sini." Namun wanita tersebut tidak memberikan respon apa-apa. Dia hanya berdehem kecil, sebagai tanda kalau ia setuju. Juga sebagai tanda bahwa ia tidak ingin diganggu. Lelaki itu pun seakan tidak ingin menyerah, dia pun melanjutkan, "Hai, saya Lelaki." Seraya mengeluarkan tangannya. Wanita tersebut menoleh, melihat ke tangan lelaki tersebut. Sepertinya dia tipe lelaki yang cukup peduli dengan penampilan. Pergelangan tangannya dibalut sebuah jam dari stainless, yang cukup membuat mata si wanita silau karena stainless tersebut memantulkan cahaya matahari. Si wanita tersenyum kecut namun tidak ada respon lain selain segaris senyum yang bahkan si pemilik bibir pun tidak rela melakukannya. Ia bahkan tidak menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan si lelaki. Hari berikutnya, seperti biasa wanita tersebut sedang duduk dengan manisnya di kursi taman itu. Namun kali ini dia menggunakan headset di telinganya. Entah mungkin untuk menghindari peristiwa seperti kemarin. Tetapi, sebenarnya hal tersebut adalah palsu. Karena sepasang headset tersebut adalah sebuah alibi baginya agar tidak ada yang mengajaknya berbicara. Dia pun tidak mendengarkan apa-apa, hanya suara anak-anak kecil berlarian tertawa girang dan burung-burung yang berkicauan. Ketika sedang asyik membaca, lelaki itu datang lagi. "Hai!" Sapa si lelaki. Tidak ada jawaban. "Hari ini sama seperti kemarin. Langitnya cerah sekali." Masih tidak ada jawaban. "Buku yang kau baca sepertinya menarik." Diam. Si wanita tidak membalas, bahkan menengok pun tidak. Suasana di sana pun terasa ikut menjadi sunyi. Senyap. Hanya suara imajinari yang hanya dirasakan oleh si lelaki yang membuncah di dalam pikirannya. Dia tak habis pikir, sungguh wanita yang sangat kaku. Bahkan mengangguk saja tidak. "Oke, terimakasih. Have a nice day." Dan dia pun mengangkat kakinya dari kursi tersebut dan pergi meninggalkan wanita itu duduk sendiri. "Aku bukannya takut berkenalan denganmu. Aku bukannya tidak mau berbicara denganmu. Aku hanya takut kau akan seperti lelaki A, lelaki B, lelaki C, dan lelaki-lelaki lainnya. Mereka juga sepertimu, menyapaku, mengajakku berbicara, tetapi mereka dalam hati berkata, aku akan membuatmu kehilangan pegangan ketika kehilangan aku. Aku akan meninggalkan kamu ketika kamu sangat membutuhkan aku. Aku akan menemukan wanita A, wanita B, dan wanita lainnya ketika kamu masih merindukan aku. Aku takut kamu sama seperti mereka, lelaki. Maaf." Wanita tersebut pun menutup bukunya yang telah selesai dia baca. Dan memasukkan ke dalam tasnya. Seperti halnya dia menutup hatinya rapat-rapat dan memasukkannya ke dalam sebuah lembah tak berujung yang tak dapat seseorang pun meraihnya. Libellés : boys, fiction, girls, story 0 comment(s)
Post a comment
|