ep·i·gram·ma [n]
1. Any witty, ingenious, or pointed saying tersely expressed.
2. A brief, interesting, memorable, and sometimes surprising or satirical statement.


Metaphore


Terkadang lucu, melihat suatu hal dapat mengubah seseorang secara drastis.
Suatu hal yang dapat membuat seseorang lebih memilih mengikuti perasaannya dibandingkan logikanya.
Suatu hal yang dapat membuat seseorang berkorban untuk seseorang lainnya, walaupun terkadang tak sejalan dengan keinginannya.
Suatu hal yang dapat membuat seseorang bertahan, walaupun hanya guratan kesedihan yang didapatnya.
Ketika hati dan otak sudah tak lagi sinkron.
Haha. Katanya sih hal itu dinamakan cinta.
Cinta atau bodoh?

***

Ya, saya juga pernah mengalaminya. Dulu.


1.59 am
Hati-hati kalau sedang jatuh cinta. 
Semakin dalam jatuhnya, semakin susah juga naiknya.

Libellés : , , ,

3 comment(s)
Post a comment
After The Rain
Hujan dan kabut tebal menemani perjalanan kami menuju Jakarta pagi itu. Waktu tempuh yang normalnya hanya dua jam pun berubah menjadi hampir empat jam oleh karena kemacetan dan cuaca yang tidak mendukung. Ditambah lagi kami tersasar karena tidak tahu pasti alamat rumah yang sedang dituju.

Bukan, kami bukan ingin berjalan-jalan. Kami mengunjungi salah satu sahabat yang baru saja ditinggal pergi oleh ayahnya untuk selamanya. Banyak yang kaget dibuatnya, karena kabar yang datang sungguh mendadak. Bahkan kami pun tak pernah menyangka ayahnya akan pergi secepat itu, terhitung umurnya yang masih belum terlalu tua.

Dari dalam mobil, saya memandang menembus ke jalan melalui kaca yang berembun. Hidup terkadang lucu, satir, seperti sebuah kotak yang berisi kejutan yang kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Dua tahun lalu, kami beramai-ramai ke rumah sahabat saya yang satu itu. Di situ kami masih bersenang-senang memberikan surprise ulangtahun buat dia. Ayahnya pun masih segar bugar menyambut kami semua yang datang walaupun sudah tengah malam. Namun, sangat tidak disangka kami datang lagi untuk kedua kalinya dengan kondisi yang berbeda 180 derajat. Semuanya kali ini dipenuhi oleh kesedihan, yang juga dirasakan oleh kami semua.

Kami salut sama sahabat yang satu ini. Dia masih tetap bisa tersenyum dan tertawa menyambut kami semua. Walaupun kami tahu pasti ada rasa kehilangan yang sungguh mendalam. Semoga kamu tetap selalu tabah ya. Dan semoga alm. ayahmu diberikan tempat yang paling baik di sisiNya.

Libellés : , ,

1 comment(s)
Post a comment
Lib.ra.ry



“A good library will never be too neat, or too dusty, because somebody will always be in it, taking books off the shelves and staying up late reading them.”
- Lemony Snicket, Horseradish: Bitter Truths You Can’t Avoid

Seriously, bosan loh melihat gedung-gedung tinggi. Apalagi jika gedung itu mall lagi mall lagi. Mall itu seperti wabah jamur. Sekali-sekalinya muncul, pasti akan muncul yang lainnya. Padahal mereka mengambil lahan yang notabene cukup besar, pasokan listrik yang mungkin bisa menyalakan lampu satu RT, dan isinya pun juga kurang lebih sama satu dengan yang lainnya. Tapi heran, kenapa makhluk bernama mall itu terus saja dibangun sih?

Jujur, saya lebih rela kalau misalnya lahan buat mall itu dijadikan lahan buat perpustakaan. At least, pohon-pohon yang ada di situ bisa sedikit rela karena mereka ditebang buat sesuatu yang bermanfaat. Lagian spot untuk perpustakaan kan ga perlu besar betul. Mini mini pun jadi. Yang penting nyaman dan bersih.

Duh, saya mau perpustakaan. Yang bukunya banyak dan bagus. Yang mana saya bisa duduk-duduk santai baca buku. Yang mana saya bisa membaca sambil mendengarkan lagu yang diputar dari iPod. Yang mana saya bisa bertemu orang-orang asing yang sama-sama menyukai tulisan Jonathan Safran Foer dan Khaled Hosseini. Yang bisa diam-diam berguling-gulingan di karpetnya yang lembut. Yang mana saya bisa mengubek-ubek seluruh raknya dan menemukan kejutan kecil di dalamnya.





I wish this town had more libraries.
And, I wanna own a library.
Like, a whole room dedicated to mountains and mountains of books.

Happy reading! :)

Libellés : , , ,

3 comment(s)
Post a comment
Unravel
Wah, ternyata sudah cukup lama saya ga pernah menulis post yang panjang. Paling banter hanya dua atau tiga paragraf. Maklum, mahasiswa semester enam. Tiap hari dikejar oleh tugas, paper, review, dan lain-lainnya.

Anyway, malam ini iseng-iseng (atau saking ga ada kerjaannya), saya membuka postingan blog yang mulai saya tulis sejak tahun 2006. Isinya hanya "hari ini aku blablabla..." atau "aku bingung blablabla...". Yah, biasalah namanya juga anak baru gede. Jadi segala macam hal yang sebenarnya ga penting pun bisa saya tulis di sini. Dan dulu saya ga pernah mikir tuh, orang lain peduli apa ga sama tulisan saya. Yang penting saya suka.

Tapi jujur saya jadi malu. Saya berpikir, "kok lo dulu bisa-bisanya nulis beginian di blog lo. Ini konsumsi publik loh." Sampai-sampai saya berniat untuk menghapus post-post yang menggelikan tersebut.

Namun, ketika post yang akan saya hapus tersebut sudah ditandai, saya membaca ulang salah satu post tersebut. Dan saya merasa sayang menghapusnya. "Mengapa dihapus?", tanya saya dalam hati. Post-post yang menggelikan ini kan bisa jadi hiburan kala suntuk seperti saat ini. Selain itu, dengan membaca post tersebut, selalu bisa membuat saya menertawakan masa lalu saya yang yaahhh... cenderung suram. Sepertinya quote Someday, we'll look back and laugh memang benar adanya.

Memang tulisan saya dulu banyak ga pentingnya. Namun, saya baru sadar, hal tersebut merupakan cara saya untuk mengembangkan kemampuan untuk menulis. Karena saya lebih suka mengekspresikan apa yang saya rasakan dan inginkan melalui tulisan. Seperti seorang bayi yang baru belajar berjalan, saya belajar menulis apa yang saya rasakan dan inginkan melalui kalimat-kalimat pendek dan tak berbobot. Awalnya merangkak, saya masih suka bingung menggunakan kalimat dan bahasa yang baik. Kemudian bangkit dan tertatih-tatih, saya menceritakan kegiatan saya sehari-hari dan segala perasaan yang saya rasakan kala itu walaupun orang lain akan berpikir bahwa itu tak penting. Dan akhirnya bisa berjalan walaupun masih tak lancar dan masih harus belajar, saya mulai bisa menyortir apa yang seharusnya menjadi konsumsi publik dan yang mana yang tidak.

Menurut saya, menulis hal-hal yang mungkin dianggap orang ga penting adalah sebuah fase. Fase dimana kita belajar menulis dan mencurahkan segala isi pikiran kita tanpa ada tuntutan nilai yang akan dicapai seperti di saat kita mengerjakan tugas. Fase dimana kita mendapatkan pelajaran-pelajaran tertentu ketika kita berusaha mengurai lagi peristiwa demi peristiwa untuk dituliskan di sini.

Mungkin dengan menulis hal-hal seperti itu, ga menutup kemungkinan akan ada komentar-komentar sinis mengenai tulisan kita. Say whatever to them. Yang penting kita sudah menggunakan tata bahasa yang baik dan memilah yang mana yang pantas untuk menjadi konsumsi publik. Because, we write to express something, not to impress people, right?

Libellés : , ,

2 comment(s)
Post a comment
Details in The Fabric #1


This pattern is from my flowery corduroy shirt.

Yeah, sometimes we forget to appreciate the details in life far too much. Details in your life, make it worth living. Just like the details in your clothes. They change something usual into something beautiful. And they make differences too, between one and another.

Libellés : , ,

0 comment(s)
Post a comment
Higher Than The Stars





Don’t let anybody tell you that you can’t do it.
You got a dream, you gotta protect it.
When people can’t do something, they wanna tell you that you can’t do it.
If you want something, go get it.

Libellés : , , ,

1 comment(s)
Post a comment
Naked
Ditatapnya cermin di hadapannya.
Dilucutinya helai demi helai kain yang menutupi tubuhnya.
Telanjang.
Dia menatap tubuhnya dari atas hingga bawah.
Betapa dia sangat menikmati saat-saat telanjangnya.
Dimana tidak ada lagi helai-helai kain yang selama ini menciptakan pencitraan-pencitraan terhadap dirinya.
Dan tidak ada lagi helai-helai kain yang selama ini menutupi kekurangannya.
Saat telanjang, dia menjadi dirinya sendiri.
Dipandanginya lipatan-lipatan lemak yang sudah lama menghuni tubuhnya.
Dipandanginya kulitnya yang menghitam akibat terbakar matahari.
Tidak sempurna.
Namun apa adanya.
Saat telanjang, dia mencintai dirinya sendiri.
Sejak orang-orang di luar sana membenci dia yang apa adanya.
Dan mencoba untuk melakukan pencitraan-pencitraan melalui helaian kain yang mereka kenakan.
Saat telanjang, dia tersenyum, tanpa kata-kata.
Dia menemukan dirinya yang sebenarnya.
Tanpa suatu penghalang.
Kepalsuan.

Libellés : ,

0 comment(s)
Post a comment
Coffee
Lagi-lagi malam ini dia tak bisa tidur. Mata lelahnya yang kemerahan sedang tidak ingin melewatkan tiap detik malamnya. Badan mungilnya yang semakin hari semakin kurus juga sedang tidak ingin bermesraan dengan kasur, bantal, dan guling. Dia berbalik, ke kanan ke kiri. Dipejamkan matanya, semenit dua menit. Namun masih tetap terjaga.

Lalu dia duduk memandangi tayangan di kotak ajaib yang semakin malam semakin tidak jelas, hanya berisi tayangan kriminal, pembunuhan, perkosaan, dan kemelut yang semakin membuat pikiran kalut. Diliriknya gelas yang tergeletak di meja kecil sebelah kasurnya. Saksi akan tiga bungkus kopi yang sekarang sudah berpindah ke dalam lambungnya.

Dia suka kopi. Ia juga suka kopi.
Ia sudah pergi. Namun dia rindu ia.
Lalu dia minum kopi. Tiga gelas.
Gelas pertama, sedang-sedang saja. Sama seperti awal perjumpaannya dengan ia. Tak terduga, tiba-tiba dan tak ada yang spesial. Gelas kedua, manis. Sama seperti cerita dia dan ia. Dibumbui oleh rayu, tawa, pelukan hangat, genggaman jemari yang erat, dan senyum malu-malu. Gelas ketiga, pahit. Sama seperti cerita dia dan ia. Diselingi friksi dan sedu.

Dia suka kopi. Ia juga suka kopi. Lalu apa yang menyatukan dia dan ia? Kopi? Demi kopi? Dia bangkit dari kasurnya, mulai menyeduh gelas kopi keempat.

Dia tidak mau berhenti minum kopi. Karena dia dan ia suka kopi.

Libellés : ,

0 comment(s)
Post a comment
Untitled
Dia duduk, di sebuah kursi kayu yang warnanya sudah memudar dimakan sang waktu.
Digerakkan bola matanya seirama dengan langkah-langkah kaki manusia yang berlalu lalang,
di depannya, di sebelahnya, di belakangnya.
Terkadang cepat, terkadang lambat, terkadang berhenti sejenak.
Dia ingin beranjak dari kursi kayu itu yang telah membelenggunya entah sejak kapan.
Seakan ada tali tak kasat mata yang mengikat badannya agar dia tak pergi kemana-mana.
Hanya dia dan kursi kayu itu.

Bola matanya bergerak semakin tak karuan.
Manusia-manusia bergerak semakin lama semakin cepat.
Dia ingin turut bergerak,
karena manusia pada kodratnya dinamis.
Dilemparlah rasa takutnya jauh-jauh.
Dia tak ingin lagi statis dan hanya duduk terdiam di situ.

Tali tak kasat mata itu dilepaskannya perlahan-lahan.
Seakan tak ingin dilepaskan, tali itu membelit badannya semakin erat.
Dia tak ingin kalah.
Ditariknya keras-keras tali itu, hingga terburai tak berdaya.
Dia tersenyum lalu kemudian dia pergi,
meninggalkan kursi kayu itu sendiri.
Hingga saatnya nanti, akan ada lagi dia-dia yang lain.

***

Kursi itu bernama, masa lalu.

Libellés : ,

0 comment(s)
Post a comment
The World Spins Around, And Sometimes You'll Be on The Top, and Sometimes You'll Be on The Bottom.
"I'm afraid of, not being enough. Not good enough, not smart enough, not pretty enough. I'm afraid of, failures."


Have you ever failed? As an ordinary human, the answer is yes. Failures, or anything related with this, might hurt you. You may be sad for a while, but remember, everything happens for a reason. Because there's no coincidence in this world.

Things will happen when the time is right. In the meantime, live your life and be patient. Good things happen to those who wait. When it's supposed to happen, it will.

Libellés : , ,

1 comment(s)
Post a comment
One Word: Pathetic!



Few days ago, I read a pathetic, touching article in a newspaper about orangutan killings, in my hometown, East Borneo. In only one year, there are 750 orangutan which have killed by hunters. Orangutan, as we know, is a species of primates which are smart and have an equivalent IQ with human. And orangutan have listed as a protected species because their amount is endangered.

The hunters said, they kill the orangutan as a protection for their field and crops which are raided by the orangutans. Also, some of the hunters kill them because they want to take their meat. Regarded to the traditional view, orangutan's meat can increase human's stamina.

Whereas, the endangered of orangutan caused by habitat fragmentation and poaching, but right now the biggest threat comes from human.

I, as a student and a person who grew up in that town, feel so sad about the orangutan killings. As we know, 60% population of orangutan located in East Borneo. This tragic orangutan killings can give a big impact into Indonesia. The people all around the world will have a skeptic view to Indonesia because they think that we can't keep endangered creatures.

So, is there something that we can do?

What we can do is giving the people educational program about the importance of saving and keeping the endangered animals. Also, the East Borneo's government should create a conservation forest. Not only the province government, but the state government should create a stricter regulation about endangered creatures, such as flora or fauna.

For us, students, we can join the animal protection organizations, such as World Wildlife Fund (WWF), or Orangutan Foundation which specialized themself into orangutan's protection. We don't have to do any anarchical things, such as demonstration to express our ideas or perspectives about this tragic orangutan killings.

Orangutan, although they're a kind of animals, but they have same rights with us. They have rights to live and maintain their species.

Photo source: www.google.co.id

Libellés : , ,

0 comment(s)
Post a comment
It's Not About The Camera, It's About The Person Behind It



Kamera mungkin memang suatu hal yang krusial di dalam fotografi. Namun, bukan berarti harus mengemis-ngemis sama orang tua biar dibeliin SLR yang canggih. Memakai alat yang seadanya pun bisa menghasilkan foto yang bagus juga kok. Ga peduli mau mereknya Canon, Nikon, Sony, Pentax, digital, analog, ataupun dari kamera HP.

Yang penting adalah, bagaimana seseorang bisa menyiasati keminimalan instrumen yang dimilikinya. Contoh, kalau cuma punya SLR dengan lensa kit, untuk fotografi macro bisa menyiasati dengan menggunakan reverse ring, yang dijual bebas dengan harga yang cukup terjangkau. Biasanya sih dengan 100 ribu, reverse ring sudah bisa dibawa pulang.

Mood seseorang saat itu juga bisa mempengaruhi hasil foto yang diambil. Kalau lagi ga di mood yang bagus, sebagus apapun kameranya juga ga akan bisa bagus hasil fotonya. Selain itu, teknik pengambilan angle foto juga sangat mempengaruhi hasilnya.

Minimalnya instrumen atau gadget bukan lagi halangan dalam fotografi. Yang penting bukan seberapa mahal dan canggih kameranya, namun bagaimana seseorang tersebut bisa menyiasati keminimalan yang dimilikinya. It's not about your camera. It's all about you. Your ability to see. Your ability to see new things, and to see old things in new ways. Your vision. It's never about your camera. Your camera doesn't matter.

Libellés : , ,

3 comment(s)
Post a comment
We're Humans After All


Humans are nothing but specks of dust in this vast universe. Humans are nothing but tiny little grains of sand in this broad coast. It doesn't matter if your skin is black, or white, or anything. We're the same humans after all. Much in common after all.

Libellés : , ,

0 comment(s)
Post a comment
A Lesson From An Old Man
"Tararali*, neng. Tararali, neng."

Itu kalimat yang selalu diucapkan oleh seorang bapak-bapak tua di gerbang kampus ketika pulang kuliah. Kalo saya tebak sih usianya sudah 70an tahun, terlihat dari badannya yang sangat kurus dan jalannya yang terbungkuk-bungkuk.

Kebetulan sore itu saya menunggu teman saya yang mengambil uang di ATM center gerbang kampus. Tiba-tiba ada si bapak yang berdiri di samping saya, mungkin beristirahat sejenak setelah disengat panas matahari yang saat itu begitu menusuk.

Lalu dari arah depan datang seorang perempuan berjilbab hitam. Dia ingin membeli tali pada bapak itu rupanya. Dari logatnya sih, sepertinya perempuan tersebut orang Malaysia (FYI, di kampus saya banyak warga Malaysia, India dan China yang juga berkuliah di sana). Dia pun memberikan selembar duit 50 ribuan kepada bapak tersebut. Si bapak tersebut bingung karena beliau ga punya uang kembalian. Namun, perempuan tersebut tersenyum dan berkata "Ambil saja Pak, kembaliannya."

Bukannya bermaksud untuk menguping tapi jarak mereka yang dekat membuat saya bisa mendengar percakapan mereka. Ini dialog mereka yang samar-samar saya dengar.

Perempuan (P): "Bapak sudah lama kerja berjualan ini?" (Sambil nunjuk ke tali)
Bapak (B): "Sudah lama, neng."
P: "Bapak kenapa tidak menjadi orang peminta-minta? Kan tanpa bekerja pun bisa mendapatkan uang."
B: "Saya punya prinsip neng, selama saya masih sanggup dan punya kekuatan buat berdiri, saya ga akan minta-minta ke orang. Saya akan melakukan pekerjaan apapun, asalkan itu halal dan bukannya menjadi peminta-minta."


JLEBB... Perkataan bapak tersebut seakan-akan menusuk hati nurani saya. Bapak itu yang sudah tua saja masih semangat agar dapat hidup lebih baik, tapi saya yang masih muda malah suka malas-malasan sendiri buat kuliah. Padahal kuliah tinggal duduk, baca, nulis saja. Duit pun juga selalu dikirim oleh orang tua.

Tiba-tiba saya teringat akan seorang ibu-ibu gendut yang suka duduk di depan pintu alfamart meminta-minta ketika ada pengunjung alfamart yang keluar dari situ. Ibu-ibu itu selalu membawa gendongan yang saya kira isinya adalah bayi karena selalu dielus-elus olehnya. Namun, pernah suatu kali saya memergoki bahwa isi dari gendongan tersebut adalah buntelan kain yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mirip bayi. Waktu itu saya pernah kena dumelan ibu itu ketika saya ga memberikan duit kepadanya. Nah namanya juga ga ada duit kecil, mau gimana lagi. Masa saya harus memberikan duit
50 ribuan dan minta kembalian.

Bukannya menghakimi, tapi seharusnya ibu-ibu itu dan pengemis-pengemis lainnya berkaca pada bapak itu. Bapak itu walaupun sudah tua, namun tetap bersemangat untuk bekerja dan mendapatkan duit dengan cara yang halal. Oh iya, selain berjualan tali ketika siang dan sore hari, bapak itu berjualan koran pada pagi harinya.

Bayangkan, sepasang tali dijual dengan harga 2 ribu, dan pembelinya pun ga cukup banyak. Kan orang-orang ga terus menerus membutuhkan tali. Yang bikin salut, dia tetap tersenyum ketika ada orang-orang yang menolak dagangannya.

Melihat peristiwa tersebut, memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi saya dan orang-orang lain yang melihat kejadian tersebut. Bahwa kita harus terus berusaha walaupun pada kenyataannya susah. Namun ga ada yang ga mungkin di dunia ini. Mungkin ga sekarang tapi someday pasti usaha tersebut akan mencapai hasil. It's just a matter of time.

Bapak penjual tali, semoga semangat bapak bisa terus ada. Dan semoga bapak mendapatkan rejeki apapun bentuknya ya. Terimakasih atas pelajaran berharganya :)


*tararali = tali-tali

Libellés : ,

0 comment(s)
Post a comment
There's A Hero If You Look Inside Your Heart
Setiap orang pasti memiliki pahlawan dalam hidupnya masing-masing. Tak terkecuali saya. Dari kecil, saya memiliki sosok pahlawan yang selalu saya banggakan di dalam hidup.

Pertama, ibu. Ibu merupakan seorang wanita yang kuat dan tangguh. Tidak peduli bagaimana kondisinya, baik sehat ataupun sakit, ia akan selalu menomorsatukan keluarganya. Ibu juga lah yang menjadi motivasi nomor satu saya. Entah mengapa, jika saya sedang berada di titik malas, mengingat ibu saya selalu berhasil membuat saya menangis dan bertekad tidak boleh mengecewakan ia.

Kedua, power ranger. Dari kecil saya sudah cinta sekali dengan superhero yang warna-warninya kayak permen itu. Segala macam CD yang playernya segede gaban(dulu masih belum jaman DVD yang playernya tipis-tipis soalnya), poster, kartu mainan, action figure, dan mainan power ranger hadiah dari ciki gocengan pun saya koleksi.

Ketiga, Jack Dawson di film Titanic. Silahkan tertawa tapi si makhluk termanis nan kece taun 1998 tersebut menarik perhatian saya. Maklum, waktu itu saya masih kelas 3 SD tapi diam-diam nonton film Titanic di kamar. Saya dulu sangat mengidolakan si Mr Jack alias Leonardo Dicaprio gara-gara saya menganggap dia seorang yang gentleman karena menyelamatkan Rose. Tapi sepertinya saat itu yang terkena demam Leonardo Dicaprio bukan cuma saya, karena sejak kemunculannya di Titanic, teman-teman SD saya yang cowo-cowo pun pada berebutan membelah tengah rambutnya, yang saat itu dikenal dengan nama belah pantat.

Keempat, diri sendiri. Bukannya saya narsis dan membanggakan diri sendiri. Namun, setiap individu pasti memiliki sisi heroik di dalam dirinya. Mungkin keberadaan seseorang tersebut tidak terlalu berpengaruh di hadapan orang banyak, namun at least pasti akan ada setidaknya satu orang yang menganggap bahwa seseorang tersebut pahlawan.

Lalu, bagaimana sosok pahlawan yang ada di dalam hidupmu? Tell me, I'd love to hear it :)


P.S.: Selamat hari pahlawan! Penjajahan belum berakhir teman-teman. Saat ini pun kita dijajah secara tidak langsung oleh barat melalui segala bentuk westernisasi, Amerikanisasi, ataupun Eropanisasi. Mari lanjutkan perjuangan yang telah dilakukan oleh pahlawan bangsa ini.

P.P.S.: Semoga para veteran di Indonesia bisa lebih diperhatikan oleh pemerintah. Karena banyak dari mereka yang hidupnya di bawah garis kemiskinan. Tanpa adanya mereka, Indonesia tidak akan bisa menjadi seperti saat ini.

Libellés : , ,

1 comment(s)
Post a comment
To Put My Trust In You Is A Mistake. A Big Mistake.
Bukannya skeptis.

Apalagi apatis.

Tapi.

Jangan pernah terlalu percaya terhadap seseorang.

Karena.

Semua orang di hidupnya pasti memiliki.

Dua sisi.

Putih dan hitam.

Karena.

Memang putih dan hitam diciptakan.

Berdampingan.

Lower your expectations because frankly, no ones really THAT nice. I'm not being mean, I'm being realistic.

Libellés : ,

0 comment(s)
Post a comment
A Sweet Box of Life


Yeah, my mom always said that life was like a box of chocolate. I'll never know what I'm gonna get. What a positive upbeat way to describe the uncertainty of life. Sometimes really sweet, really bitter, a bit sweet or a bit bitter.

I feel like the taste of my life is just the same as Lindt Dark Chocolate 40%. Sometimes I feel that there are some things in my life which are very sweet. Laughter and jokes are always exist in my days. The presence of sweetness in my chocolate life mainly arise because of the friends and family. But sometimes there is a bitter taste on my tongue, just like my life. As the people said, life is not always smooth as you expected and you wanted, but a little rough.

I have no idea what life will give me next, but whatever it is, it will be sweet. I believe that :)



Libellés : , , ,

0 comment(s)
Post a comment
Thank God, I Still Have One
Adakah dari kalian, readers, yang menderita mata minus? Kalau jawabannya iya, berarti kamu sama dengan saya. Kali ini saya ingin bercerita tentang sakit yang sedang saya derita. Tidak mengganggu secara langsung sebenarnya, namun sejujur-jujurnya saya cukup terganggu.
Ketika saya masih kelas tiga SD, saya mengeluh kepada mama saya, "Ma, kenapa mata adek yang kiri ga bisa ngeliat? Adek pusing."
Sontak mama saya khawatir mendengar keluhan dari saya. Sebenarnya keluhan itu sudah saya rasakan sejak lama, namun sebagai anak kecil yang masih polos saya dulu berpikir semua orang melihat hanya dengan mata kiri.
Setelah mendengar keluhan dari saya, maka mama pun membawa saya ke spesialis mata di rumah sakit. Setelah diperiksa, ternyata mata saya yang kiri minus 11 dan yang kanan minus 2. Perbedaan yang sangat jauh bukan.
Selidik punya selidik, minus saya yang besar itu disebabkan karena ketika saya masih kecil, saya pernah terjatuh dan hal tersebut berakibat fatal terhadap saraf mata saya. Hal tersebut diperparah dengan ukuran bola mata saya yang sedikit lebih besar, sehingga saraf mata saya yang kiri semakin tertarik. Bisa dibayangkan, jika saraf mata orang normal adalah sebuah karet yang masih baru dan elastis, saraf mata saya adalah sebuah karet yang sudah rapuh dan hampir putus. Dokter pun mewanti-wanti saya agar berhati-hati dengan mata kiri saya. Tidak boleh terkena tekanan tinggi dan tidak boleh terkena benturan. Dokter pun memberikan saya berbagai macam vitamin dan obat untuk melindungi saraf mata saya yang tipis ini. Namun, begitulah saya, terkadang masih suka bandel sehingga minum obat pun saya malas. Terakhir saya memeriksa mata saya, ketika enam bulan yang lalu. Minus mata saya pun naik drastis, yang kiri menjadi minus 14.
Sampai sekarang saya masih suka miris ketika ada orang-orang yang berkata, "ngapain sih lo pake softlens? Gaya-gayaan?" Salah besar. Saya sudah sering memakai kacamata, namun ada satu kejadian yang membuat saya takut memakai kacamata. Kacamata saya pernah pecah ketika saya nekat memakai kacamata ketika bermain softball. Alhasil kacamata tersebut pecah dan melukai wajah saya. Saya bersyukur tidak mengenai mata kiri saya, karena saya tidak tahu akan bagaimana jadinya jika pecahannya mengenai mata saya.
Yang paling saya tidak suka adalah, ketika saya melihat seringkali muncul dua bayangan yang bergerak dan membuat saya pusing. Oleh karena itu, saya seringkali tidak fokus dengan apa yang saya lihat.
Saya tidak tahu sampai kapan saraf mata kiri saya akan bertahan dan terus membantu saya melihat indahnya dunia. Dari kecil, karena tahu bahwa mata kiri saya sedikit tidak berfungsi, saya pun membiasakan melihat hanya dengan mata kanan saya saja. Jadi, kasarnya, mata kiri saya hanya sebagai pelengkap di wajah saya karena penglihatan saya bertumpu pada mata kanan. Akan tetapi, saya bersyukur karena Tuhan masih memberikan saya satu mata yang masih bisa berfungsi dengan normal. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika yang mengalami masalah tersebut adalah kedua mata saya. Masih banyak orang di luar sana yang benar-benar tidak memiliki kemampuan untuk melihat, namun mereka masih memiliki semangat untuk maju. Saya tidak boleh jatuh dan terpuruk hanya karena saya kehilangan fungsi normal dari salah satu indera saya. Trust me, ini akan menjadi motivasi untuk saya agar bisa menjadi seseorang yang lebih. Oh, by the way, doakan semoga operasi mata saya nanti pertengahan 2011 ini akan lancar-lancar saja ya :)



Libellés : ,

0 comment(s)
Post a comment
You're Beautiful, It's True
It breaks my heart to see girls unhappy with how they look. Every girl is beautiful, YES EVEN YOU, the one who's reading this thinking, "this is so true, aside from me." -Me


Hati saya serasa tersentil ketika membaca sebuah tweet yang ditulis oleh teman sekelas saya yang yah tidak usah disebutkan namanya. Dia menulis begini, "selalu merasa gemuk dan ingin diet adalah penyakit universal seorang wanita." FYI, dia adalah seorang lelaki. Dan jelas, saya sebagai wanita pasti ingin menimpali, "tidak semua wanita seperti itu." Saya menyimpulkan, hal tersebut adalah hasil dari konstruksi pikiran yang diberikan oleh orang-orang tertentu. Mereka berkata bahwa wanita yang cantik adalah wanita yang tinggi lebih dari 160 cm, berkulit seputih salju, berambut sehalus sutra, berbadan kurus seperti lidi. Labeling sempurna tersebut bisa dilihat pada Barbie, because it's just a shade of perfection, and nobody's perfect. Saya juga terkadang suka miris melihat kelakuan teman-teman saya yang selalu berkeluh-kesah "duh, gue gendut banget", "duh, betis gue gede banget", "duh, gue item banget", dan berbagai bentuk duh duh lainnya. Dalam hati saya ingin berteriak, "apa lagi sih yang mau lo dapet?! Lo udah cukup good-looking, tinggi, dan betis lo udah sekecil lidi. Kalo betis lo gede, betis gue apa? Betis gajah?!" Media juga saya rasa ikut berperan di dalam pengkonstruksian pikiran wanita-wanita ini. Saya kadang heran, padahal kan Indonesia adalah sebuah negara yang multikultural, kulit alaminya juga yang berwarna sawo matang. Rambut juga dari lurus hingga keriting mie ada. Postur badan kita juga bukan postur badan bule yang harus tinggi sekali sekaligus kurus sekali. Akan tetapi, model-model dan artis-artis yang seliweran di media elektronik ataupun cetak semua seragam. Tinggi, kurus, dan putih. Itukah bentuk penyeragaman perbedaan yang ada di negara ini?
Anyway, keindahan fisik juga akan hilang sejalan dengan berjalannya waktu. Masih ada yang lebih pantas dibanggain daripada sekedar keindahan fisik. Contohnya, kemampuan berkomunikasi, kemampuan bersosialisasi, kepemimpinan, dll. Kemampuan tersebut mahal harganya dan sangat susah didapatkan, apalagi jika memang ga memiliki bakat. Sedangkan keindahan fisik dapat dibeli. Tinggal pergi ke toko make up terdekat, sedikit polesan dan TADAAA... didapatlah wajah cantik bak model di tv. Saya juga mengakui, saya tidak tergolong ke dalam wanita-wanita berparas cantik yang dikagumi lelaki. Badan saya kurus, kulit saya seperti sawo busuk karena terbakar matahari, rambut saya ga lurus, gigi saya tidak rapi, bibir saya tidak seksi seperti Megan Fox, but at least, saya masih punya sesuatu yang bisa saya banggakan. Ideas, creativity and my mind :)



Just in case you need reminder, you're beautiful! And for the guys who want perfections, go buy a barbie :p



Libellés : , , ,

0 comment(s)
Post a comment
I Ask You, Why?
The sky is blue. Why? Why not purple?
The first number is one. Why? Why not nine?
The second word after A is B. Why? Why not P?
The clock is keep ticking. Why? Why not stop for a while?
The people are getting old and forget their memories. Why? Why not stay young and remember all?
The people always judge a person by the appearance. Why? Why not her personality?
There will be a hard goodbye after an easy hello. Why?
There are a lot of differences each people. Why?
Why? Why? Why? Why I keep asking why? Why?



Libellés : , , ,

0 comment(s)
Post a comment


---------------- Older Posts -----------------