ep·i·gram·ma [n]
1. Any witty, ingenious, or pointed saying tersely expressed.
2. A brief, interesting, memorable, and sometimes surprising or satirical statement.


You're There When No One Else Does
Saya tidak pernah menyangka akan tinggal di desa terpencil yang bernama Jatinangor. Semua ini hanyalah faktor takdir dan keberuntungan yang menyebabkan hari ini saya berada di sini. Awal pindah ke desa ini, sempat terbersit rasa takut di dalam diri saya. Saya takut tidak akan menemukan teman-teman yang baik di sini. Maklum saja, saya berasal dari sebuah kota kecil yang notabene orang-orangnya hanya begitu-begitu saja dan satu sama lain sudah saling tahu. Berbeda dengan di sini yang terdiri dari beragam latar belakang dan budaya. Namun, ternyata ketakutan saya itu tidak terbukti. Di sini saya menemukan banyak sekali teman dan sahabat yang ada di saat saya susah dan senang. Ini adalah sebagian dari mereka-mereka tersebut.

1. Nadya Aprilia (Nadya, Sapi, Ayin)


Dia adalah teman kosan saya yang gendut dan (ngakunya) lucu hehe. Jangan dekatkan dia dengan kasur, karena kalo sudah nempel ke kasur dia akan tertidur sangat pulas berjam-jam dan tidak akan bangun meskipun sudah digedor-gedor dan dimissedcall. Partner setia saya ketika bermalam minggu, karena kita berdua sama-sama single fighter. Kita berdua adalah the warteg's, entah awal bulan, tengah bulan dan terutama akhir bulan, kita berdua hampir tak pernah absen makan di Warteg Annisa GKPN. Makan sepiring porsi kuli cuma 4 ribu rupiah loh.

Ketika pertama kali masuk ke HI Unpad, dialah first-met saya. Berawal dengan kenalan di facebook, hingga saling mengirim wall, dan ternyata kita masuk ke jurusan yang sama yakni HI Unpad. Kita pun menyusun rencana bertemu sebelum ospek supaya ada "teman bareng" namun entah mengapa selalu gagal.

Pertemuan antara saya dan Nadya malah terjadi secara tidak terduga. Ketika itu saya sedang berbaris di lapangan voli FISIP Unpad, saya melihat satu wajah yang sangat tidak asing di samping saya. Dengan nekat dan tingkat kesotoyan yang tinggi saya pun menyapa "Nadya ya? Yang di facebook kan?". SHOOT!!! Saya tidak salah orang rupanya hehe.

Nadya sangat fanatik terhadap basket. Biasanya dia menyebutnya dengan kata "bola oren". Selalu sensitif jika diajak berbicara soal berat badan hehehe :D


2. Heny Octaviani (Henoy, Henci)


Dulu ketika semester 1 saya masih ngekos di daerah terpencil Jatinangor yakni Cikuda, kosan Heny adalah kosan pelarian saya ketika sedang suntuk, dikarenakan kosan dia yang terletak di "downtown" Jatinangor. Rekor terlama saya menginap di kosannya adalah 6 hari. Sampai-sampai dia gerah dan bosan sendiri melihat saya yang dulu seringkali bertandang ke kosannya.

Asal muasal kata Henci adalah Heny dan Banci. Orang bilang sih jika wajah Heny dilihat dari sisi tertentu maka dia akan terlihat seperti banci. Kalau dilihat sepintas, seperti tipikal anak yang pendiam dan kutu buku. Padahal sebenarnya, bawel dan cerewet. Dia seringkali terlihat menyeramkan ketika sudah merajuk-rajuk dengan menggunakan suaranya yang ngebass sehingga terdengar seperti errrr... banci.

Heny tipikal orang yang gampang mendapatkan mood-swings. Ketika suatu saat dia tertawa-tawa, tiba-tiba karena sesuatu hal bisa langsung berubah menjadi cemberut dan badmood. Dia takut terhadap kucing, pernah suatu ketika saya menakut-nakuti dia dengan kucing, sehingga keluarlah jurus merajuk ala bancinya. Aaaa... Aaaaa... Aaaaa...


3. Nurul Fadilla Sukran (Uni, Emak)


Tipe ibu-ibu sejati! Applause untuk ibu yang satu ini. Dia paling jago menawar. Dan anehnya dia suka menawar barang-barang yang seharusnya tidak harus ditawar. Pernah suatu ketika saya menemani dia mengeprint foto untuk dipajang di kamarnya. Beginilah dialog singkat yang terjadi antara aa' tukang foto dengan Uni.

Uni: Aa', ngeprint foto ukuran 4R berapa?
Aa' tukang foto: 1.500, neng, per lembarnya (seingat saya sih segitu).
Uni: Ah, bisa kurang ga harganya, a'?
Aa' tukang foto: Duh apalagi yang dikurangi, neng, harganya?
Uni: 1200 per lembar deh ya.
Saya: -_________- (cuma bisa mengelus dada *ups jangan berpikiran negatif ya*).


Tapi keuntungan dari berbelanja bersama Uni adalah, kita bisa mendapatkan harga yang murah. Apalagi kalau bukan karena jiwa tawar menawarnya yang sudah sangat melekat di dalam dirinya.

Uni selalu marah ketika dikatain gendut, tetapi memang badannya sekarang sudah melembung sekali dibandingkan ketika awal masuk kuliah. Tetapi, saya suka senderan di bahu Uni, karena empuk hehehe. Lagi dan lagi, jangan mengatai dia gendut kalau tidak mau dia ngambek. Oh iya, ketika awal masuk kuliah, si Uni sempat menjadi bunga desa di angkatan 2009. Lumayan banyak senior yang melakukan PDKT ke dia, namun sayangnya belum ada yang kecantol.

Sekarang ini, dia sedang keranjingan Kpop. Segala macam display picture BBM, twitter, foto-foto dan lagu-lagu di BBnya adalah berbau Kpop. Partner berKpop ria si Uni adalah Rizma. Sampai-sampai saya bingung sendiri dan tidak mudeng ketika mereka sedang heboh membicarakan Kpop.


4. Pretty Prihati (Pretong, Banci)


Sumber gosip tercepat dan terpercaya. Hobinya sama seperti saya yakni kepoin orang yang ingin dikepoin hehehe. Jangan tertipu sama wajah luarnya yang terlihat cool dan jutek. Aslinya woooowwwwww seperti bom yang meledak-ledak. Bawel, ceriwis dan suka menclak-menclok sana-sini. Entah ini orang seperti tidak ada lelahnya jika berbicara.

Dulu saya sempat tertipu dengannya ketika awal masuk kuliah. Saya melihat Pretty yang masih berambut panjang, kalem dan pendiam. Yang tidak saya duga adalah, sewaktu SMA dia adalah tipikal anak emo yang suka mendengarkan lagu Bring Me The Horizon, setali tiga uang dengan saya jaman dulu hehe.

Dia disebut banci karena memang kelakuan dan mukanya seperti banci. Cablak, suka ngangkang dan yah entahlah pokoknya mirip banci. Dia adalah partner saya ketika membolos ospek jurusan Interdependence dulu. Saya belum terlalu mengenal dia namun saya sudah sok asik kabur ke kosannya demi menghindari kakak panitia ospek yang kebetulan satu kosan dengan saya. Kita adalah the metal fortis', karena kita pernah menggunakan shampoo metal fortis demi memiliki rambut yang panjang supaya terlihat feminim.


5. Rizma Rosellini (Rizmot, Ote)


Jagoan basket dari Cilegon. Kemana-mana stylenya sudah seperti anak basket, sporty dan tomboy. Pulang ke Cilegon jika stok sabun dan shampoo di kosannya sudah habis. Tergabung di dalam BBC, untuk kepanjangannya tanyakan sendiri kepadanya.

Karena mungkin dia jarang memakai stuff yang berbau wanita, maka ketika belanja stuff wanita pun dia akan ribet sendiri. Seperti kemarin kita mencari kebutuhan untuk NTUMUN, kita pun sampai memutari Jatos untuk mencari sandal yang cocok untuk Rizma. Dan ujung-ujungnya memakai Converse juga hahahaha.

Sama seperti yang lainnya, Rizma adalah seminar hunter. Yang penting adalah mengumpulkan sertifikat sebanyak-banyaknya, dan makan siang gratis (kalau dapat). Sama seperti saya, Rizma juga memiliki obsesi untuk traveling ke Europe. Sewaktu di Singapore saya ingat sekali dengan perkataanya, "Ah gue ga berasa di luar negeri nih kalo belum megang salju." Statement yang sangat saya SETUJUI!!!

Sama seperti Uni, dia juga terobsesi dengan Kpop. Suka marah-marah jika ada orang yang suka dengan idolanya. Jealous katanya hahahaha. Sangat klop dengan Uni jika sudah membicarakan Kpop.



Hmmm... Itulah beberapa deskripsi singkat dari sahabat yang mengisi hari-hari saya di Jatinangor. Bukan hanya sahabat untuk bersenang-senang, namun juga sahabat untuk bertanya ketika saya kebingungan, sahabat yang menyupport saya ketika saya sedang down, sahabat yang mau menerima apa adanya saya yang kurus kering, ceroboh dan hitam ini, sahabat yang mau mendengarkan setiap cerita saya, sahabat berbagi ide, sahabat berbagi tawa dan canda (meskipun terkadang suka tidak lucu tetapi bagi kita itu lucu), sahabat yang saling mengatai satu sama lain tetapi itu tandanya sayang, dan sahabat yang tidak saling membicarakan di belakang. Mereka adalah hujan di kala hari-hari saya yang kering di Jatinangor.


P.S.: Yang saya tulis di atas tidak bermaksud menyinggung. Itu hanyalah bentuk kasih sayang saya terhadap kalian (ceile).
P.P.S.: Photo credit goes to Hani Setya.




Libellés : , ,

0 comment(s)
Post a comment
Hometown, Place Where I Belong
Bicara soal tempat tinggal, selama 19 tahun gue hidup, gue ga hanya tinggal di salah satu kota saja. Kehidupan gue jika dianalogikan bagaikan sebuah arus listrik, dia selalu dinamis dan ga statis. Jadi selalu bergerak, yah walaupun pergerakan gue ga secepat arus listrik tentunya. Gue terkadang sedikit merasa iri dengan teman-teman gue yang memiliki kesempatan untuk berpindah-pindah, bukan hanya lintas kota, provinsi, bahkan negara. Yang membuat gue iri adalah, mereka bisa mendapatkan banyak sekali pengalaman, relasi dan juga pengetahuan budaya. Walaupun pasti di tiap perpindahan mereka, akan diiringi dengan perpisahan yang pastinya.. sedih dan berat. But hey, that's life. Selalu ada kompleksitas dan juga keterbalikan di dalam suatu hal yang mau ga mau harus dijalani dan dihadapi. Kalau ga begitu, hidup akan terasa datar dan ga ada makna yang bisa diangkat dari hidup.
Okay, back to the topic. Soal tempat tinggal, gue baru tinggal di tiga kota yang semuanya bertempat di Indonesia.


- Bontang

Dari sejak gue lahir hingga berumur 18 tahun, gue tinggal di Bontang. Gue suka kebingungan menjawab pertanyaan orang-orang yang bertanya, gue orang mana? "Orang mana" di sini konteksnya adalah suku loh ya. Cuma sedikit gue perhalus karena bisa-bisa dianggap tulisan gue ini mengandung SARA. Oleh karena bokap nyokap gue adalah orang Jawa, gue jawab aja dengan santai "gue orang Jawa". Nah, permasalahan timbul di sini. Mereka lalu bertanya apakah gue lahir di Jawa, langsung aja gue jawab engga karena sudah jelas-jelas gue lahir di Bontang. Mereka pun tertawa dan berkata bahwa saya bukanlah orang Jawa, karena ga lahir di Jawa. Dari situlah suka timbul kebingungan, nah kalo gitu gue orang mana dong? Jawa bukan, Kalimantan juga bukan. Lalu, sejak saat itu setiap ada orang bertanya, gue orang mana? Gue akan menjawab "gue orang Indonesia", untuk menghilangkan segala bentuk kebingungan yang ada. LOL.
Namun, masih banyak banget orang-orang yang gatau Bontang itu dimana. Pernah ada yang mengira di Sulawesi, bahkan Papua. Padahal, kalo dilihat-lihat Bontang ga kalah tuh sama Samarinda yang notabene adalah kota besar di Kalimantan Timur. Dari segi lalu lintas, Bontang yang paling juara. Tertib, rapi, lampu lalu lintas ga ada yang byar-pet (re: suka mati apalagi pas jam sibuk). Yah, mungkin karena emang penduduk di Bontang ga sebanyak kota besar lain kali ya. Seingat gue, Bontang macet cuma pas abis buyar nonton bola dan jam berangkat dan pulang kerja karena ada pemeriksaan kendaraan ketika keluar dan masuk pabrik. Dari segi ekonomi, Bontang memiliki APBD tertinggi ke-2 dan tingkat gaji tertinggi pertama se-Indonesia. Masyarakat Bontang pun bisa terbilang makmur dan sejahtera. Bayangin deh, penjual cireng aja pake motor Ninja RR dan handphonenya Nokia 5800. Ckckck jaman gue SMA kayaknya handphone gue kalah canggih tuh. Sekurangmampunya masyarakat Bontang, minimal mereka pasti memiliki satu motor yang bertengger di depan rumahnya. Dari segi lingkungan, Bontang adalah kota yang sangat asri karena masih banyak pohon dan juga taman-taman. Di tengah jalannya juga diberi space khusus untuk tempat tanaman yang setiap hari dengan rutin disirami oleh DPU. Oleh karena itu, Bontang sempat meraih piala Adipura selama dua tahun berturut-turut. Dari segi pendidikan, pemerintah Bontang sepertinya sangat memperhatikan pendidikan untuk masyarakatnya. Sebagai contoh, seluruh sekolah negeri di sana tidak dipungut biaya. Jadi, sekurangmampunya masyarakat di sana, minimal mereka telah mengenyam pendidikan hingga SMA, karena gratis.
Sayangnya, di Bontang sangat minim hiburan. Misalnya, di sana ga ada bioskop. Ini menjadikan gue jadi bahan bulan-bulanan teman-teman gue karena di kota asal gue ga ada bioskop hehehe. Mal juga baru dibangun dan yah, bisa dibayangkan sendiri lah seperti apa. Tapi lumayan lah untuk sekedar menghilangan penat ketika sekolah, soalnya gue rajin banget main DDR di sana hehehe. Nah, baiknya, untuk mengobati rasa duka hati lara karena minimnya hiburan, dua pabrik besar yang terdapat di Bontang tersebut menyediakan fasilitas hiburan untuk para karyawannya. Tiap weekend, gue dan teman-teman selalu fitness, sauna, bowling, dan itu semua GRATIS! Wuuuwww heaven.
Gue sih berharap semoga pemerintah Bontang bisa tetap mempertahankan atau kalau bisa semakin memajukan kota Bontang. Biarpun Bontang adalah kota kecil yang bahkan keberadaannya diketahui oleh sedikit orang, tetapi dia bisa memberikan sesuatu yang besar untuk Indonesia.


- Surabaya

Sebenernya gue tinggal di Surabaya dalam waktu yang sangat singkat sekali. Cuma sekitar dua bulan. Itupun karena gue terpaksa harus mengikuti bimbel persiapan SNMPTN di Ganesha Operation SMA kompleks. Hari-hari gue di Surabaya pun dihabiskan dengan belajar dan belajar. Walaupun gue tinggal di Bontang, namun tiap liburan pasti gue pulang kampung ke Surabaya, karena bokap nyokap gue berasal dari kota ini. Sama aja sih seperti kota-kota besar lain, hiburan di sini sangatlah banyak. Mal, cafe, tempat nongkrong, dll. Namun, pada dasarnya gue bukan tipe orang yang suka nongkrong dan (pastinya) menguras kantong seperti itu. Gue lebih tertarik pada tempat-tempat yang masih berbau nature. Kalaupun gue diajak oleh temen-temen gue, ujung-ujung gue membeli desert dan beveragenya aja. Gue hanya berpikir, sayang menghambur-hamburkan duit sebanyak itu. Kalau di tempat lain yang mungkin lebih low-class bisa dapet makanan yang lebih murah dan lebih enak, ya kenapa engga. Entah kenapa, lidah gue lebih bergoyang jika makan soto dari mamang-mamang yang lewat di depan tempat bimbel menggunakan mangkok bergambar ayam dan bertuliskan mi-won, daripada gue duduk di tempat yang nyaman dan menggunakan mangkok beling berukir-ukir. Seperti ada rasa aneh yang timbul, tapi gue gatau apaan. Yang gue suka dari Surabaya adalah bangunan-bangunan tuanya yang masih berdiri kokoh dan juga orang-orangnya yang rame dan seru.


- Bandung.. errr.. I mean Jatinangor

Jatinangor masih Bandung ga ya? Hmmm... Bandung coret mungkin? Yaaah, entahlah itu yang jelas masih dalam wilayah Jawa Barat. Gue sama sekali ga pernah terpikir akan tinggal di daerah antah berantah seperti ini. Jatinangor? Gue dulu bahkan gatau itu dimana. Tetapi itu semua berubah ketika tiba-tiba gue terpaksa harus mengisi salah satu pilihan di luar regional III SNMPTN. Awalnya konselor gue menyuruh untuk memilih HI UI, karena berdasarkan hasil tes dan try out yang selama ini diadakan gue dianggap mampu untuk lolos passing grade dari HI UI. Namun, gue ga mau kuliah di Jakarta. Rame, sumpek, padat, dan gue takut ga sanggup di UI hehehe. Akhirnya iseng-iseng gue pilih HI Unpad. Dan ternyata GUE LOLOS! Whatta surprise! Sejak saat itu gue benar-benar hidup di Jatinangor, sendirian, tanpa siapa-siapa karena memang tidak ada saudara gue yang tinggal di Jawa Barat. Makan, duit, segala macem gue mesti ngurus sendiri. Dari sinilah gue menyadari manfaat dari nyokap gue mengajari untuk hidup mandiri sejak gue kecil. Gue jadi ga perlu terlalu bersusah payah untuk beradaptasi dengan daily life gue. Gue ga kebayang, kalo misalnya dari kecil gue selalu dimanja dan apa yang gue mau selalu gue dapatkan, mungkin gue udah nangis-nangis tiap malem sampe mata gue kayak kodok kali ya.
Yang paling gue suka dari Jatinangor adalah udaranya yang dingin-dingin semriwing. Lalu gue juga cocok dengan makanannya. Awal-awal gue pindah ke Jatinangor, berat badan gue naik drastis hingga mencapai 52 kg. WOW! Padahal seumur-umur gue ga bisa banget yang namanya gendut. Namun sekarang gue udah bisa beradaptasi dan berat badan gue cenderung stabil, 49 kg hehehe.

Kalau gue ditanya, di mana yang paling betah? Tentu gue akan menjawab Bontang. Karena, gue udah hidup di Bontang selama 18 tahun. Segala kenangan manis, buruk, sedih semuanya ada di sana. Selain itu, gue agak sedikit apatis dengan kota besar. Gue terkadang suka miris melihat kelakuan orang-orang di lalu lintas kota besar. Yelling, shouting and cursing are the simply greets on the streets. The people don't care about the other. Seenggaknya hal tersebut membuat gue bersyukur dilahirkan di kota kecil yang at least pagi-pagi kita bisa ngeliat orang-orang menebarkan senyum dan ga serba terburu-buru. Gue suka Bontang ketika pagi karena gue selalu suka udaranya. Segar dan masih terasa basah oleh embun. Gue suka Bontang ketika malam karena gue bisa stargazing dari halaman belakang rumah dan melihat ratusan bintang-bintang bertebaran di langit. Lain halnya dengan kota besar, dimana udara segar dan melihat bintang adalah suatu hal yang sangat langka.



Libellés : , , , ,

0 comment(s)
Post a comment
Winter In Jatinangor
Today, Jatinangor is pretty cold. According to the sources that I read, the temperature reached 18 degrees Celsius temperature. In fact, when I was in the room wearing a thick jacket, close the window, wearing a heater, and shut the door the air was still cold. so, here I am now a girl with a bandage compress on the forehead, covered with dolls and blankets, which are always sneezing all the time.

Okay, I think it's better if I go to sleep. Goodnight. Lemme enjoy this pretty cold night.

Libellés : , ,

0 comment(s)
Post a comment
Randomness #3
Hey people! Long time no see, hope you've all been doing fine. I'm stuck in Jatinangor, in case you were wondering. Oh crap, I really hate this. Actually, this is a long holiday, but I still have to go to campus because I have something called "short-f*cking-semester". Well, wish you all have a very nice day.

Libellés : , , , ,

0 comment(s)
Post a comment
A City Called Jatinangor


Yeah, this is my second town. After my sweet little hometown, Bontang. Until now, there's the time that I feel like, "Uh, why I hesitate myself to live in here?". Even, my hometown is bigger than this town. But, I convince myself to accept the way that has given to me. I'm sure, that I have to live here, and continue study at Padjadjaran University is the best way. 4 years aren't a long time. I found some cool bestfriends here. I must admit that live in Jatinangor gives me so many kind of live lessons. Okay, wish me luck. I have to graduate in 2013.

Libellés : , , ,

0 comment(s)
Post a comment
Midnight At Campus
DEERRRT.. DERRRTTT… Eh ada BBM, dari si Garry ternyata. Dia ngajakin gue hunting foto sama anak-anak di kampus. Buset dah, ini udah jam 9 dan kalo dari kosan gue mau ke kampus kan mesti lewatin jembatan cincin tuh. Hororrr bangeeettt. Akhirnya mereka bilang mau jemputin gue. Oke sip, gue siap-siap dan tak lupa bawa kamera. Masa judulnya hunting foto tapi guenya lupa bawa kamera sih.


Masih jaman ospek jadi rambutnya masih pada culun gitu hahaha



Foto pertama saya bareng si Garry :p



Eh sumpah ya gue suka banget deh foto ini. Kesannya mistis-mistis gimana gitu


Akhirnya, hunting foto kelar jam setengah 12 malem. Bujubuset gue mesti balik ke kosan, horor banget. Nah kita pada nekat tuh kan lewat jembatan cincin. Oiya, sebelom ke jembatan, kan ada pager yang ngebatasin kampus sama Cisaladah, ternyata pagernya udah digembok. Yaelaaah mampus gue, masa gue nginep di kampus sih haha ga lucu banget. Akhirnya gue nekat tuh demi keberlangsungan hidup gue, gue panjat aja tuh pager, padahal di atasnya ada kawat berduri dan tangan gue sempet kebaret. Parah deh. Dengan begitu, gue selamat sehat walafiat sampai di kosan Andhiniku tercinta hihihi :p

Libellés : , , , ,

0 comment(s)
Post a comment
Call Us The Bontangers
Oke, say hello (again) to Jatinangor. Kali ini gue mengajak Wenot untuk bertandang ke desaku yang kucinta. Pas di taksi (sok elit banget naik taksi, padahal anak kosan haha), tiba-tiba Jesi —temen sekos gue— ngesms. “Pril, di kamar lo ada uler! Buruan balik lo”. SHITMAAAANNN, gue baru inget sama ikan bakar yang dikasih temen papsky. Ah ga mungkin, palingan si Jesi boongin gue biar gue cepet balik ke kosan, kan gue emang ngangenin hahaha.
Sesampainya di kosan..
KRIEETT.. Pintu gue buka. Hmm samar-samar tercium bau.. BUSUK! Wah berarti si Jesi ga main-main nih. Gue langsung lunjak-lunjak dan gemeteran, maklum gue emang Ophidiophobia. Jadi gue phobia sama hewan-hewan melata semacam cacing, ular dan uler brengsek itu sendiri. Dulu gue pernah tuh ga sengaja ada cacing di kaki gue, gue langsung ga minat makan 2 hari, terus tidur pun ngigau-ngigau mulu “Caciiiinggg… Caciiinggg..”, gara-gara gue mimpi cacing itu gue ga bisa tidur sampe 3 hari. Parah ya. Tiba-tiba, ibu kos dateng dan ngagetin gue dari belakang. Eh copot lo cacing! Si ibu nyuruh gue tenang-tenang aja soalnya kamar gue udah dibersihin. Wooo no no nooo, ga bisa ga bisa. Pasti masih ada yang nyelip biar satu, tar dia beranak terus kamar gue jadi kerajaan ulat. Oh my, gue ga bisa ngebiarin itu semua terjadi. Akhirnya si Wenot yang kebetulan ga phobia hewan melata, terpaksa jadi sukarelawan untuk mericek kamar gue yang malang. Fiiiuuuhh untung aja udah ga ada.
Malemnya, kosan gue kedatangan tamu istimewa. Evansius Sagala & M. Yusran Akbar, temen seperjuangan anak Bontang. Kebetulan gue sekosan sama 2 anak Bontang, yaitu Agita Dwi Fury & Ihwan Noerhadi. Nah, si Evan & Ucang ini sedang mengunjungi teman mereka tercinta yang bernama Ihwan. FYI, Evan ternyata satu fakultas sama gue, bedanya gue HI dan dia ANI. Kalo si Ucang anak Sastra Jerman, Wenot anak STPB dan Ihwan anak Fikom. Akhirnya kita berlima ngobrol ngalor ngidul sampe jam waktu imsak. Brrr.. karena dingin, gue dan Wenot pun beranjak ke kamar buat mimpi indah.


Balada Ucang manjat pagar Andhinni


Libellés : , , ,

0 comment(s)
Post a comment


---------------- Older Posts -----------------